Singkat, Hanya Untuk Renungan

Sebuah cerita singkat yang aku tulis saat aku sedang bosan. Maaf jika tulisanku ini dapat menyinggung, menyadarkan, atau menyindir seseorang.


Saat itu, saat aku berumur 17 tahun, pertama kalinya aku melihat kemarahan ayahku dan melihat wajahnya menjadi merah padam. Dan pada saat itulah aku menyesali keputusanku. Aku merupakan murid yang tidak memiliki prestasi yang baik dan tidak begitu aktif di kelas. Bahkan aku tidak memiliki banyak teman seperti yang lainnya yang memiliki geng di sekolahnya. Namun, aku merupakan murid yang aktif di kegiatan-kegiatan kesiswaan di sekolah maupun di luar sekolah, yang memungkinkan aku memiliki banyak kenalan.

Malam itu, sekitar pukul 23.00 ayahku melihat fotoku dengan seorang teman lelaki ku (sebut saja dia mantan pacarku) yang berada di telpon genggam ku. Ayahku menjadi sangat marah kepada ku dan hubungan ayahku denganku pun menjadi renggang karena kejadian ini. Keluargaku merupakan tipe keluarga yang mengutamakan pendidikan dan agama dalam hidup. Orangtuaku, dari saat mereka dilahirkan, merupakan tipe orang yang anti sekali dengan yang namanya pacaran. Ya, aku tahu pacaran memang tidak diperbolehkan oleh agama. Namun, pada saat itu, saat aku belum berumur 17 tahun, aku hanya dilarang untuk melakukannya tanpa diberitahukan alasan dan sebabnya.

Namanya juga anak remaja yang memiliki rasa ingin tahu dan perasaan yang mudah goyang, aku melakukannya. Aku melakukan hal yang (bahkan) Allah SWT tidak suka apalagi ayah dan ibuku. Ya, benar, aku pacaran. Aku pacaran! rasanya sangat bahagia sekali seperti aku melepas semua bebanku. Bahkan setiap kali aku merasa bosan, si dia selalu menemani dan menghapus kebosananku.
Aku melakukannya secara diam-diam agar tak seorangpun di keluargaku tahu. Namun, seperti istilah "sebaik-baik tupai melompat, pasti akan jatuh juga" hubuganku dengan dia pun berakhir karena sebaik-baik apapun aku menyembunyikan hal ini, pasti akan ketahuan juga oleh orangtuaku. Aku pikir, orangtua ku akan memaklumi ku karena aku baru beranjak 17 tahun. Namun aku salah, masih teringat dengan jelas rasa panas yang terasa di pipiku akaibat tamparan keras yang mendarat di pipiku. Saat itulah aku baru menyadari apa yang aku lakukan benar-benar salah dan betapa aku telah membuat orangtuaku marah dan mempermalukan orangtuaku terutama ayah (yang dapat dibilang) merupakan orang yang dihormati di lingkungan rumahku.

Karena itulah aku merasa aku benar-benar anak yang tidak tau artinya membahagiakan orangtua dan tidak dapat membahagiakan orangtua. Dan aku berpikir, kalau orangtuaku saja sampai semarah ini, apalagi Allah SWT yang telah menciptakanku?

Sejak saat itulah aku bertekad dalam diri untuk berubah menjadi yang lebih baik dan hal itu Alhamdulillah dapat terwujud. Aku mendapatkan hasil yang baik untuk UN di sekolahku walaupun masih banyak yang terbaik lainnya, dan aku lolos uji SNMPTN tulis pada pilihan pertama. Dan sekarang, aku tengah memperjuangkan kehidupanku di bangku kuliah untuk sebuah gelar sarjana sains dan membuat orangtuaku bangga terutama ayahku nanti saat mereka melihatku lulus dengan menjadi seorang sarjana sains dengan predikat cumlaude.

Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi padaku nanti. Untuk itu, berhati-hatilah dalam mengambil keputusan dan bertindak, jika tidak ingin terjadi penyesalan yang dalam pada hidupmu.

Sekian,
Forhim9502

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Kedua UN

The Last Day of UN

Tisu? Engga Dehhh..... -_-"